Warning, anak kecil dilarang mendekat-!!
Saat Perth pertama kali melihat Santa di usia empat belas tahun, ia tidak melihat sosok "ayah".
Ibunya memperkenalkan pria itu dengan senyum semringah, namun Perth hanya terpaku pada bagaimana cahaya lampu ruang tamu memantul di kulit porselen Santa yang tampak terlalu halus untuk ukuran seorang pria.
Santa memiliki struktur wajah yang menipu semua manusia. Rahang yang tegas namun dibalut kelembutan, bibir merah alami yang selalu tampak lembap, dan sepasang mata yang bisa membuat siapa pun kehilangan orientasi.
"Perth, ini Santa. Panggil Papa, ya?" ucap ibunya hari itu.
Perth hanya mengangguk kaku. Sejak saat itu, rumah mereka tidak pernah terasa sama. Baginya, kehadiran Santa adalah gangguan visual yang konstan.
Setiap kali Santa berjalan melewati koridor hanya dengan kaus dalam tipis atau handuk yang melilit pinggangnya sehabis mandi, Perth harus memalingkan wajah, meredam gejolak aneh yang seharusnya tidak ada untuk seorang wali sah.
Sialnya, alam bawah sadar Perth tidak bisa berkompromi.
Mimpi basah pertamanya terjadi di kelas dua SMP, bukan dengan model majalah atau teman sekelas, melainkan dengan bayangan Papa tirinya sendiri.
Dalam mimpi itu, Perth adalah penguasa. Ia membuat Santa yang suci menangis hebat di bawah kukungan tubuhnya, memaksa pria cantik itu meracau tanpa kata yang jelas, hanya erangan kenikmatan yang memecah kesunyian.
Sejak malam itu, Perth tahu dia tidak akan pernah bisa menatap Santa dengan cara yang normal lagi.
Perth kini telah menginjak usia delapan belas tahun. Tubuhnya tumbuh pesat. Bahu yang lebar, lengan berotot hasil latihan di sekolah, dan tatapan mata yang semakin tajam.
Sementara Santa tetap sama. Pria itu seolah tidak menua, justru semakin matang dan terlihat "berbahaya" bagi kewarasan Perth.
Kesempatan itu datang saat ibunya harus pergi ke luar negeri selama dua minggu untuk urusan bisnis desain interiornya.
Di rumah besar itu, hanya tersisa Perth dan Santa."Perth, bisa bantu Papa sebentar?" suara Santa terdengar dari arah kamar mandi utama di lantai atas.
Perth yang sedang mengelap motornya di garasi segera naik.
Ia menemukan Santa berdiri di depan pintu kamar mandi dengan wajah bingung, memegang kunci inggris yang tampak terlalu besar di tangannya yang ringkih.
"Shower-nya macet lagi, Perth. Papa coba putar malah airnya merembes ke mana-mana," keluh Santa dengan nada pasrah.